Rabu, 24 Agustus 2011

Makna Indah Di Balik KETUPAT

KETUPAT sudah menjadi bagian dari tradisi merayakan Idul Fitri di seantero Nusantara, termasuk Malaysia dan Brunei. Bahkan ketupat sudah masuk ke dalam jajaran makanan sehari-hari. Seperti di Jakarta yang sehari-hari penduduknya terbiasa mendengar penjaja ketupat sayur lewat di depan rumah.

Masyarakat Jawa malah mempunyai tradisi merayakan Bakda Kupat (disebut juga Bakda Sawal) yang dirayakan 1 minggu setelah Bakda Lebaran. Yang pasti, makan ketupat di Hari Raya akan semakin berarti bila kita mau menengok makna di balik tradisi itu. 


Mengaku Bersalah 

Menurut budayawan Djawahir Muhammad seperti dikutip oleh harian Surya Merdeka, ketupat itu sebenarnya melambangkan bahwa seseorang yang membawa ketupat itu ngaku ia manusia yang lepat (keliru). Kesalahan manusia yang bermacam-macam itu tercermin pada anyaman ketupat yang berselang-seling dan rumit.

Kalau ketupat kita belah, tampaklah isinya yang berwarna putih. Nah, itulah cerminan hati yang putih bersih dan suci setelah kita memohon ampun dari segala kesalahan. Bentuknya yang indah itu juga melambangkan kesempurnaan setelah umat Muslim menuntaskan ibadah puasanya selama sebulan. Maka ketika kita mengantarkan hidangan ketupat dan ubo rampe-nya kepada sanak keluarga dan kerabat, secara simbolis kita menyatakan permohonan maaf sambil mengajak bersilaturahmi. Indah, bukan? 

Di Arab Tak Ada 

Meskipun belum ditemukan literatur yang menyebutkan secara jelas siapa dan kapan yang menemukan ketupat, Sunan Kalijaga dipercaya sebagai tokoh yang pertama kalinya memperkenalkan makanan nasi terbungkus daun muda pohon kelapa itu kepada masyarakat Jawa. Beliau juga yang konon memperkenalkan perayaan Bakda Kupat.

Yang menarik, meski bagi kita di sini ketupat itu identik dengan Hari Raya Idul Fitri, ternyata Bondan Winarno, penulis dan pengamat kuliner, seperti dituturkannya dalam Kompas Cyber Media, tidak menemukan ketupat di salah satu negara Arab saat ia suatu hari berlebaran di sana.

Sementara itu, mari kita saling mengantar ketupat, sambil membawa hati bersih yang siap saling memberi maaf.

Minal Aidin Walfaizin … mohon maaf lahir dan batin. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 Hijriah.

Intisari-Online

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...