Rabu, 01 Februari 2012

Do'a Seorang Ayah - Jenderal Douglas MacArthur


Build me a son, O Lord, who will be strong enough to know when he is weak, and brave enough to face himself when he is afraid; one who will be proud and unbending in honest defeat, and humble and gentle in victory.

Ya Allah, jadikanlah anakku, seorang yang cukup kuat mengetahui kelemahan dirinya, berani menghadapi kala ia takut; yang bangun dan tegar dalam kekalahan yang tulus, serta rendah hati dan penyantun dalam kemenangan.

Build me a son whose wishbone will not be where his backbone should be; a son who will know Thee….

Lead him, I pray, not in the path of ease and comfort, but under the stress and spur of difficulties and challenge. Here let him learn to stand up in the storm; here let him learn compassion for those who fail.

Ya Allah, jadikanlah anakku, seorang yang tahu akan adanya Engkau, dan mengenal dirinya, sebagai dasar segala pengetahuan.
Ya Allah, bimbinglah ia bukan di jalan yang gampang dan mudah, tetapi di jalan penuh desakan, kesukaran dan tantangan. Ajarilah ia, agar ia sanggup berdiri tegak di tengah badai; dan belajar mengasihi mereka yang tidak berhasil.

Build me a son whose heart will be clean, whose goal will be high; a son who will master himself before he seeks to master other men; one who will learn to laugh, yet never forget how to weep; one who will reach into the future, yet never forget the past.

Ya Allah, jadikanlah anakku seorang yang berhati suci, bercita-cita luhur; sanggup memerintah dirinya sebelum memimpin orang lain; seorang yang sanggup belajar tertawa, tanpa melupakan tangisan; mengejar masa depan tanpa melupakan masa lalu.

And after all these things are his, add, I pray, enough of a sense of humor, so that he may always be serious, yet never take himself too seriously. Give him humility, so that he may always remember the simplicity of greatness, the open mind of true wisdom, the meekness of true strength.

Sesudah semuanya membentuk dirinya, aku mohon Ya Allah, rahmatilah ia, dengan rasa humor
sehingga tak serius berlebihan. Berilah kerendahan hati, sehingga ia akan senantiasa ingat akan kesederhanaan dalam keluasan, keterbukaan kebijakan sejati, dan kelemahan dalam kekuatan yang sesungguhnya.
 

Then I, his father, will dare to whisper, “I have not lived in vain.”

Jika sudah demikian, Ya Allah, beranilah aku berkata, "Hidupku tak sia-sia”




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...