Rabu, 04 Januari 2012

Mematahkan Mitos Tinta Isi Ulang

Menggunakan tinta isi ulang beresiko gagal cetak dan pemborosan karena melakukan pencetakan ulang.

Beberapa lembar hasil cetakan naskah ditempelkan pada sebuah papan di ruang serbaguna Hotel Grand Hyatt Regency, Yogyakarta, Jumat pekan lalu. Lembaran-lembaran naskah yang dicetak menggunakan tinta hitam itu menjadi "inti" acara HP (Hewlett-Packard) Printwatch 2010, workshop yang digelar HP Imaging and Printing Group.


Sebab, dari contoh hasil cetakan itulah para jurnalis peserta workshop dapat lebih memahami betapa berbedanya hasil cetakan menggunakan tinta asli (original) dengan tinta isi ulang (refill).

Deretan naskah yang ditempelkan di sisi kiri adalah hasil cetakan printer HP yang menggunakan cartridge HP seri 703 original. Sedangkan di sisi kanan, terpampang hasil cetakan printer HP yang memakai tinta refill. Masing-masing menampilkan hasil cetakan dari halaman pertama, pertengahan, sampai akhir.

Hasil cetakan printer dengan menggunakan tinta asli tampak konsisten dari lembar pertama sampai lembar akhir. Sedangkan hasil cetakan menggunakan tinta refill hanya tampak bagus di beberapa lembar awal. Pada cetakan-cetakan berikutnya, muncul bayangan, seperti garis-garis, dan gradasi ketebalan cetakan. Di lembar terakhir, setengah halaman dari hasil cetak itu bahkan kabur alias tak bisa terbaca dengan jelas.

Tujuan acara workshop bertema "Racing Ahead with HP" ini memang untuk mengedukasi peserta agar memahami keuntungan yang diperoleh jika menggunakan cartridge tinta atau toner asli. Bukan hanya peserta workshop, masyarakat umum juga diharapkan lebih memahaminya.

Menurut Adrian Lesmono, Market Development Manager Ink Supplies HP Indonesia, alasan utama orang menggunakan cartridge tinta (cairan) atau toner (bubuk) isi ulang adalah harganya yang murah. Tinta atau toner isi ulang juga mudah didapat dan dijual di mana-mana. Selain itu, ada "mitos" bahwa tinta atau toner isi ulang lebih hemat dan hasilnya sama berkualitas dengan tinta atau toner asli.

Mitos-mitos itulah yang akan "dipatahkan" HP, karena orang hanya melihat sisi "murah" ketimbang sisi harganya. Padahal, jika ditinjau secara keseluruhan, penggunaan tinta original jauh lebih hemat. Seperti perbandingan hasil cetak tinta original dengan tinta refill yang ditampilkan dalam acara workshop itu.

Cartridge tinta HP 703 harganya Rp 85 ribu. Dengan tinta ini, pengguna dapat mencetak hingga 600 halaman. "Hasil cetakannya konsisten dari halaman pertama sampai akhir,"kata Adrian. Ongkos cetak per halaman pun bisa dihitung secara pasti, yakni Rp 140 per halaman.

Sementara itu, harga tinta refill (cara suntik atau infus) sekitar Rp 60 ribu per botol. Untuk mencetak hingga 600 halaman, dibutuhkan sekurang-kurangnya empat botol. Jika dikalikan Rp 60 ribu, dibutuhkan biaya Rp 240 ribu. Dari sini saja tampak bahwa penggunaan tinta isi ulang justru merugikan. Menggunakan tinta isi ulang juga berisiko boros akibat melakukan pencetakan ulang, karena sering muncul garis-garis atau gradasi ketebalan cetak pada hasil cetakannya.

"Jika tidak puas atas hasil cetak, lalu kita membuang kertas itu dan mencetak ulang lagi. Ini kan pemborosan," ujarnya. Ini juga mengakibatkan waktu terbuang percuma untuk mencetak ulang, belum lagi adanya resiko kerusakan permanen pada printer. "Atau, belum lama dipakai, ternyata tintanya bermasalah."

Harga pasar (retail) memang cenderung menjadi patokan konsumen. Karena itu, HP Indonesia akan menyediakan produk-produk cartridge terbarunya dengan harga yang lebih terjangkau. Salah satunya adalah cartridge HP seri 802, kategori ultra-low price cartridge. Harga cartridge ini Rp 50-60 ribu saja

Seri ini tak seperti cartridge HP standar, yang mampu mencetak maksimal 200-300 halaman, melainkan cuma mampu mencetak sebanyak 120 halaman. Menurut Adrian, yang menjadi patokan konsumen bukanlah biaya per halaman (cost per-page). Harga retail cartridge asli, yang dianggap konsumen masih cukup mahal, yang membuat mereka lari ke tinta isi ulang. "Cartridge ini adalah cara HP untuk menjembatani bujet yang terbatas itu."

Selain tinta isi ulang, yang perlu diwaspadai adalah beredarnya re-manufactured cartridge atau cartridge HP yang dirakit kembali dari cartridge lama yang telah dibuang. Seperti cartridge isi ulang, uji coba penggunaan remanufactured cartridge (biasa disebut "re-man") juga mengundang risiko kerusakan.

Dalam workshop itu, HP mengumumkan hasil studi terbaru yang mengukuhkan uji coba tersebut. Studi yang dilakukan TUV SUD PSB, sebuah lembaga pengujian teknis, itu menemukan bahwa tinta asli HP menghasilkan dua kah lebih banyak halaman cetak ketimbang tinta isi ulang. Sedangkan 42 persen cartridge isi ulang gagal dalam pengujian.

Studi terpisah juga dilakukan oleh Quality Logic pada tahun ini. Lembaga independen penjamin kualitas yang terpercaya itu melakukan serangkaian pengujian di Shanghai, Cina, dan New Delhi, India, dengan membandingkan cartridge warna hitam HP Laser Jet original dengan cartridge isi ulang.

Dalam studi itu, disimpulkan bahwa rata-rata 60 persen cartridge Laser Jet isi ulang mengalami dead on arrival atau menghasilkan cetakan berkualitas buruk pada tiga kali pengujian. Di samping itu, lembaran contoh cetak cartridge isi ulang yang diuji menunjukkan tujuh kali lebih banyak masalah adhesi toner ketimbang cartridge asli HP

Jika selama ini konsumen mengira bisa menghemat uang dengan memilih cartridge isi ulang atau cartridge re-man, temyata mereka keliru. "Sebab, mereka tidak memperhitungkan biaya tersembunyi yang muncul dari cetak ulang, penempatan cartridge, atau mutu hasil cetak yang buruk," ujar Adrian. Jadi, lebih percaya mitos atau fakta? nms

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...